-->

Makalah Uslub Menurut Para Sastrawan



MAKALAH USLUB MENURUT PARA SASTRAWAN

Kata “uslub” merupakan kata yang sering didengar ketika kita berbicara tentang sastra, pada umumnya ketika kita membaca atau mendengarnya akan dibarengi dengan penggambaran tertentu, seperti ;
ü  Gaya bahasa yang mudah atau rumit,padat,aneh atau tidak biasa, kuat atau lemah, dll.
ü  Gaya bahasa bijak,halus atau menyenangkan,atau menarik atau serius dll.
Ada beberapa catatan atas penggunaan kata uslub saat ini,antara lain :
·         Kata uslub merupakan kalimat yang elastis, kita bisa menggunakanya ketika kita berbicara tentang ungkapan yang pendek atau potongan kata-kata dari majmu’ puisi para penyair atau karangan prosa penulis, dan bisa merujuk pada kata-kata dan cara pengaturanya (kelompok 1)  atau makna serta cara mereka terdaptar (kelompok 2)
·         Uslub membawa semacam signifikasi pada nilai sastra. dalam semua penggunaan yang telah  kita pelajari anda, disana ditemukan hukum untuk memperbaiki atau sebaliknya. Jika digunakan dalam hubungannya dengan deskripsi ,seolah-olah mengatakan,misalnya (fulan memiliki gaya) ini menunjukan bahwa anda lebih suka cara dia menulis.
·         Uslub tersebut menunjukkan suatu ciri khas. Maksudnya, ketika kita berbicara tentang suatu “uslub” maka uslub tersebut haruslah berbeda dengan uslub-uslub lain. Dan ketika kita berkata :" orang itu memiliki uslub!” maka maksud kita tidak hanya memuji caranya dalam menulis, namun lebih dari itu bahwa maksud kita adalah menyatakan bahwa dia memiliki ciri khas dalam menulis yang berbeda dengan cara orang lain.
Dalam konteks ini, sering terdengar ungkapan "uslub adalah manusia" atau –jika kita lebih teliti lagi- "uslub adalah manusia itu sendiri." Orang yang mengatakan kalimat ini adalah "Buffon",  seorang pemikir berkebangsaan Prancis pada abad 18 M. Ungkapan tersebut tidak lebih dari hanya mengemukakan bahwa setiap orang memiliki caranya tersendiri dalam mengungkapkan sesuatu. Akan tetapi perkataan itu tersebar dan sering digunakan oleh para penulis dan terpengaruh oleh pemahaman zaman, maka mayoritas orang menjadi memahaminya bahwa uslub merupakan cerminan kepribadian dan moral seseorang.
Ketika uslub menunjukkan makna-makna tersebut, maka wajar jika kata ini menjadi titik perhatian kegiatan sastra menurut pemikiran banyak sastrawan dan para kritikus. Diantaranya adalah Taufik al-Hakîm yang telah menyatakan semua problematika kehidupan sastranya dalam kata uslub. Dia berkata kepada kawan Perancisnya: (Kawanku Andre!... benarkah kau memahamiku?...apakah kau mengerti kondisiku?...kondisiku selalu berupa kebingungan, pencarian dan usaha menguak tentang uslub!...)
            Namun dalam surat lain dia berkata: (sesungguhnya protes semua orang tidak pernah berubah: mengapa kau terus memaksakan uslub?!...uslub Perancismu tidak pernah meniupkan keharuman pribadi apapun yang menarik…semua itu hanyalah ungkapan-ungkapan yang terdapat dalam buku-buku Balaghah yang kau anggap sebagai uslub yang menakjubkan!...
            (Betul…sesungguhnya konsentrasiku dalam perkara uslub telah menjadikanku taklid…(Benar-benar ... ah kata untuk gaya, dan kata (formule) ...! Saya mulai melihat pada saat itu ... saya menemukan setelah jangka panjang dan usaha bahwa uslub ini terkadang argumen seorang penulis yang tidak menemukan apa yang ia katakan ... yang memiliki apa yang dia katakan kepada orang-orang hanya karena harta nya ... tidak penuh gaya presentasi, situasi teater dan biaya dalam pemerintahan tetapi yang memberikan sesuatu yang sepele!! ... metode apa kecuali bahwa mesin Industri mengemis untuk mendapatkan kebenaran, tapi apa sebenarnya indah jika meletus saja, dari lubuk hati saya yang tulus, dalam kata-kata sederhana ... metode ini kadang-kadang sastra semua orang yang tidak memegang lengan mereka apa manfaat orang!! ...)
Ini kontradiksi yang aneh, hanya dapat ditafsirkan mengubah posisi penulis metode, atau berarti gaya yang dalam kasus kedua adalah apa yang dimaksud dalam kasus pertama. Dan ia merasa beberapa perbedaan ini ketika ia mengatakan dalam surat yang sama: (Misi penulis Mesir atau timur yang paling sulit dan paling sulit ...... tapi harus jihad, bahkan di negara kita juga: teknik yang tepat masih di kami tahu sinonim untuk Almtsnah Bahasa bunga-bunga, dan beberapa high-end bahwa metode adalah roh dan karakter! ...)
Jadi terdapat dua makna dalam uslub, yang mana keduanya bergulat dalam pikiran penulis Arab atau timur. Dan penolakan al-Hakiem pada arti yang awal (bunga bahasa Almtsnah) tidak mencegah dia dari penelitian terhadap uslub yang haqiqi - uslub yang memiliki ruh dan karakter.  Dan tserinspirasi oleh metode warisan dan hidup bersama-sama. Dia mengatakan dalam pesan berikut: (Saya selalu menempatkan dalam pikiran ketiga sumber .
Cara menginspirasi : Al Qur’an, novel 1001 malam, bangsa dan masyarakat, akan tetapi uslub ! uslub ! bersama saya,dengan pembahasan tentang uslub gaya (bahasa) yang akan saya bahas, dimana di temukan akhirnya? Maka dari itu dalam pendapat saya.
Pada tahap yang lebih matang (setelah ditemukan gayanya) para al-hakim membahas keaslian sastra maka tidak ada perkara nafi yang mutlak yang menjadi resep keaslian yang kembali bersumber dari tema-tema atau pemikiran-pemikiran.ia menambahkan : ketika ada yang bertanya kepadaku saat itu,apa itu keaslian sastra? dan saya menjawab dengan cepat dan sederhana : itu adalah kamu, itu yang memeriksa dirimu, itu yang mendengarkan suaramu,nada bunyi yang kau keluarkan.
 Setiap seniman yang menciptakan gayanya yang khas atau suaranya yang khas ……… bebas dari pengaruh sebelumnya. Namun dalam penyusun saat itu gaya bahasa ditemukan sendiri. Gaya bahasa ini yang ditawan : bagaimana keluarnya gaya bahasa ini sama halnya, itu menjadi tragedy karakter personal selama sudah menjadi karakternya, tidak akan pernah hilang dan musnah.
Pada  pemaparan ini keseluruhan benar dan semua menjadi berlawanan dengan yang jelas dan itu adalah semua yang membayangkan penderitaan yang ditemukan penulis yang kreativ dan biasa disebut karya sastra.dan apabila makana yang satu sama diantara semuanya maka itu adalah gaya yang dapat di aplikasikan dalam bentuk karya sastra akan tetapi masalahnya.
Bentuk pun mempengaruhi terhadap keinginan penuturnya. Dari sini penulis yang terdahulu melemparkan uslub pada “identitas” penulis awal yang mencakup tradisinya. Maka apakah seorang filosof (yang arif) akan melalui sebuah perkataan karena “identitas” manusia yang tidak mempunyai hubungan dengan pikirannya?. Mungkin karena ada sebuah elemen masalah yaitu berupa batasan terhadap keinginan akan pikirannya. Kebenaran akan ilmu alam atau pemikiran ilmu falak, perenungan akan pemikiran filosof, khayalan akan pemikiran seorang penyair sekalipun- melainkan apa yang memungkinkan agar kita menamainya.
Dari keterangan tersebut, kita tidak bisa membicarakan uslub sebagai sebuah ungkapan yang lurus, serta melampaui batasan tabiat yang sebagian atau sementara waktu. Tidak adanya batasan akan pemahaman kita bagi sebuah “pemikiran” yang terdapat dalam sastra atau tidak. Seharusnya ketika kita mencakupi itu semua agar kita tidak lupa bahwa “sastra” inilah yang kita bicarakan darinya bukan sesuatu yang tidak bersusun (murni). Akan tetapi rangkaian suara yang kita mendengarnya dari telinga kita atau ragu-ragu  dalam kebaikan dua telinga kita jika menjadikan kita untuk membaca bacaan yang tak bersuara.
Dua artikel ini mempunyai kesimpulan tentang “Uslub” dalam buku dan referensi kesastraan dan kesenian, pemecah belahan di awal keduanya mulai diperbaiki oleh penulis Perancis Anatole France yang berpendapat –sebagaimana yang ia katakan dalam artikelnya-  bahwa uslub yang lebih utama dalam saastra ialah uslub yang mudah, yang hampir tidak terfikirkan oleh pembaca, ilmu mempunyai hak perhatian dan pemikiran kepada kita, bukan untuk kebenaran seni itu karena dengan wataknya yang menyenangkan dan tidak memberi manfaat akan kekaguman dan tidak berfungsi baginya. Maka haruslah menjadikan nya sebagai penarik tanpa adanya sebuah syarat. Artikel ini mendebatkan pendapat Anatole France –barangkali gambar tersebut didalamnya terlalu berlebihan akan adnya ucapan melainkan dengan mengulang sastranya tanpa mengedepankan tema atau pikiran- yang ditunda pada sebuah catatan panjang dengan pena perdebatan yang mengejek. Dalm keadaan rahasia tidak mudah mentyampaikannya. Seolah keluasan dalam goa bagi huruf abjad dan tidak diungkapkan pada lisan para penyair dan pendongeng, bagi keindahan makna yng tertutup tidak akan muncul pada manusia dalam pakaian mandi setiap waktu. Dan keindahan seni yang mudah bagi siapa saja yang mampu dan menyukainya dan senang serta cenderung akan mengorbankan harganya. Adapun kemudahan yang luas dalam sastra kemudian menunjukan.
Kecerdikan dan kemampuan jika itu mengarah pada makna Adib keras-lain dan dilakukan Aatsaf Dan makna Mahdh yang dilakukan sastra? Mengutip bait Akkad untuk banyak kebanggaan dan memotong Zebra menunjukkan Mavi Amaanehma diri lintah parah dihitung oleh beberapa orang di manis bertele-tele, dan menyimpulkan bahwa gambar fiksi dan makna yang asli lemak dalam keindahan metode dalam literatur dan seni.
Valakad jelas Baqrr bahwa ide-ide dalam literatur adalah jenis ide ad hoc, dan kemudian lupa bahwa ide yang ditularkan oleh bahasa, Tapi. Bagaimana untuk bergerak tidak bertanggung jawab, tapi cukup untuk mengatakan bahwa gambar fiksi dan makna dari setiap ide sastra lemak awalnya dalam keindahan metode. Bahkan jika itu hanya untuk gambar fiksi dan makna penulis lemak atau penyair cukup karena menulis sastra besar, kreativitas adalah suatu proses yang sangat mudah dengan Etna, tapi ia tahu bahwa membaca itu sendiri upaya Tntalib dan fokus sampai kita mendapatkan foto-foto imajiner dan makna lemak.
 Artikel kedua membahas metode Akkad Qillh tangan yang dibiarkan menggantung di artikel pertama. Jika ia berhasil artikel pertama untuk membahas pendapat Anatole France dalam literatur CHL. Mengubahnya untuk membahas sifat makna sastra dalam artikel ini kedua membahas pandangan radikal dalam bahasa, yang Ieibon pada Kad dan para pengikutnya mereka menulis dalam kefasihan secara Avrnha Vivsdon Arb "Apa yng mereka ktakan mereka mlihat penyair Miketibh dan penulis pda hari-hari yang terkandung keberatan stu per satu jika tujuan mereka Kembali ke Arb gaya bodoh dan berpengalaman dalam rambut mereka dan Ntarham, ini tidak penerus kita menulis prosa, tapi Qsidhm tidak Balnmodj yang menebus dalam sistem karena mereka sering ayat-ayat yang tersebar mengumpulkan sajak dan satu keluar penyair makna dan kemudian kembali kepadanya dan kemudian meninggalkannya di adalah kecepatan dikenal dan Atertab tidak dapat diterima.  
Dan berdiri Akkad jeda bahasa yang lebih hormat ketika gagasan Ratu diambil oleh
Al-'Aqqâd lebih menghormati ide "bakat kebahasaan" yang diadopsi oleh para musuhnya dari Ibnu Khaldûn. Namun dia memandang bahwa diantara keistimewaan bakat ini kemampuannya dalam berubah sesuai dengan zaman dan suku bangsa. (Kebiasaan memiliki peran dalam menilai keistimewaan kebahasaan dari segi ini. Jika kebiasaan ini berubah, maka standar nilainya pun berubah).
 Diantara keistimewaan kebahasaan Arab adalah adanya peran dzauq. Hal itu karena qzauq memberikan kekuatan dan kejelasan pada ujaran, menambah kekuatan dan penjelasan pada makna, menjaga lisan agar tidak mengatakan ungkapan yang rendah, membantunya dengan serangkaian gaya bahasa yang dapat digunakan dalam lisan dan tulisan. Kebihan-keliebihan inilah yang kita jaga, kita perluas juga kita tambahkan ke dalamnya keistimewaan bahasa-bahasa lain yang sesuai untuknya. Kita dapat memperlakukannya seperti perlakuan pemilik rumah kepada rumahnya. Sehingga kita tidak berdiri terikat dan tertahan seakan kita menterjemahkan dari diri orang lain, mengungkapkan bukan dengan lisan kita, berpikir bukan dengan akal kita yang Allah anugerahkan dalam kepala kita. Starai dari semua itu hanyalah "pengetahuan dan kemampuan yang baik."
             Tidak diragukan lagi bahwa pengetahuan dan kemampuan yang baik adalah syarat dalam melakukan semua pekerjaan bagus. Namun jika kamu menasehati seseorang agar dalam pekerjaannya disertai dengan pengetahuan dan kemampuan yang baik, hal itu tidaklah berguna karena bisa jadi dia telah memiliki pengetahuan dan kemampuan yang baik sehingga dia tidak memerlukan nasehat tersebut. Atau dia sama sekali bodoh karena itu kamu berpaling darinya sehingga tangannya dapat terpotong oleh pisau atau tersengat aliran listrik. Hal ini tidak terpengaruh oleh pengetahuan atau kemampuan yang baik. Lantas siapakah yang berkata bahwa kekuatan, kejelasan, kehalusan dan penjelasan –jika misalnya kita setuju dengan makna lafal-lafal ini- merupakan syarat mutlak bagi karya sastra yang baik? Lalu apa standar jelek dan lemahnya jika kita hanya bisa mengukurnya dengan kefasihan yang sama sekali tidak kita ketahui definisinya kecuali sesuai dengan definisi yang diberikan oleh para ahli Balaghah zaman dulu yaitu "sesuatu yang paling sering digunakan oleh bahasa Arab yang dianggap fasih"? seorang qâdhi bernama 'Ali bin 'Abdul 'Aziz al-Jurjani pada abad ke empat Hijriyah lebih bebas dari al-'Aqqâd pada abad empat belas Hijriyah (dia adalah orang liberal yang selalu melawan orang-orang yang bersikap jumud) ketika dia membantah tuduhan para ahli bahasa yang sangat keras kepada syair-syair gaya baru pada zamannya dan zaman sebelumnya yang dianggap jelek dan lemah. Maka dia memutuskan bahwa syair mereka tidak patut diukur dengan standar syair-syair orang lama. Syair tersebut harus dipandang dan dinilai dengan standar nilai pada zamannya. Pada dasarnya syair tersebut indah dan dipandang lebih baik daripada syair orang-orang terdahulu.
            Adapun sekumpulan gaya bahasa yang digunakan oleh penyair atau penulis dalam karyanya, apakah itu berbeda dengan bentuk gaya bahasa pada zaman Taufîq al-Hakîm?
            Al-'Aqqâd terus bersemangat dalam membela penyair dan kritikus sastra kontemporer dengan terus menceritakan tentang keduanya dan berpikir dengan cara mereka. Semangat inilah yang terus mendorongnya seperti cambuk besar dalam memperbaharui ilmu retorika Arab. Namun mereka semua tidak dapat mencapai tujuan yang mereka inginkan. Ini disebabkan oleh banyak hal. Diantaranya adalah karena ketidakjelasan konsep mereka tentang hubungan antara bahasa sastra dan makna sastra.
            Pembicaraan mereka mengenai gaya bahasa berhenti sampai di sini. Pembicaraan mereka mendapat halangan berupa ketidakjelasan pemahaman dan batasan yang tumpang tindih. Sehingga orang-orang mengira bahwa pembicaraan mengenai sastra haruslah seperti itu.
            Pembicaraan mengenai bahasa sastra yang bermula dari sastra itu sendiri (misalnya sastra berupa kumpulan pemikiran, makna, imajinasi atau lafal. Juga sastra bersifat kemanusiaan bergantung pada tempat, dll) pastilah akan menyebabkan kerancuan dan ketidakjelasan. Hal itu karena sastra adalah seni yang indah, namun berbeda dengan seni-seni indah lainnya (seperti seni lukis, pahat dan musik) karena sastra tidak memiliki alat khusus yang menjadi media penyampainya. Namun sastra menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang dalam komunikasi dan interaksi mereka juga dalam segi-segi kehidupan mereka. Maka jika diskusi mengenai bahasa sastra berawal dari hakikatnya sebagai sastra, hal ini akan menyebabkan ketimpangan dalam hal apakah sastra itu sebuah seni atau bahasa. Dari sini, kita harus memulai dari salah satu segi, baik dari segi seni atau  dari segi bahasa. Para filsuf mengambil jalan pertama dalam pembahasan mereka mengenai filsafat estetika dan seni. Sehingga pemikiran mereka lebih teratur. Namun hal ini menyebabkan kegiatan sastra tidak mendapatkan porsi yang seharusnya dari segi dampak kebahasaannya. Karena itulah kegiatan ini menjadi terasing dari kritik sastra kecuali dalam hal-hal tertentu. Dengan demikian kita sekarang dapat memulai studi kita terhadap bahasa satra dari segi hakikatnya sebagai bahasa.









POKOK PIKIRAN

-          Kata Uslub sering kita dengar ketika kita membahas tentang sastra
-          Ketika mendengar kata ‘uslub’ maka kita akan terpikir bahwa uslub itu kata yang rumit, susah difahami, kata yang kuat, indah, aneh dan sebagainya.
-          Ada beberapa catatan atas penggunaan uslub ini; 1. Uslub merupakan gaya bahasa yang halus/elastis,  2. Uslub membawa semacam signifikasi pada sastra. 3. Uslub memiliki dan mengantarkan ciri khas si penulis
-          Ada ungkapan bahwa ‘uslub ialah manusia itu sendiri’ hal ini menunjukan bahwa setiap orang memiliki caranya tersendiri dalam mengungkapkan sesuatu. Lebih realnya lagi mayoritas orang memahami bahwa uslub merupakan cerminan kepribadian dan moral sesorang.
-          Anatole dalam artikelnya berpendapat bahwa uslub yang lebih utama dalam sastra ialah uslub yang mudah, yang hamper tidak terfikirkan oleh pembaca.
-          Diantara keistimewaan kebahasaan Arab adalah adanya peran dzauq. Hal itu karena qzauq memberikan kekuatan dan kejelasan pada ujaran, menambah kekuatan dan penjelasan pada makna, menjaga lisan agar tidak mengatakan ungkapan yang rendah, membantunya dengan serangkaian gaya bahasa yang dapat digunakan dalam lisan dan tulisan.


0 Response to "Makalah Uslub Menurut Para Sastrawan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

-->