-->

Makalah Ilmu Arud Wal-Qawafi





MAKALAH ILMU ARUDL WAL-QAWAFY

PENDAHULUAN
            Sastra merupakan salah satu keindahan dari dari berbagai keindahan kehidupan manusia dan proses penciptaan yang ditemukan manusia dalam bahasa mereka yang beragam, dan terjadi dalam khayalan-khayalan yang mengagumkan, yang menghasilkan karya-karya sastra, cara pemahaman dan pengucapan, emosi-emosi yang halus, dan keinginan manusia yang menyatu antara satu dan yang lain.[1]
            Sesuai pembahasan, sastra adalah sebuah ide yang menjadi acuan sebuah seni atau bahan dan bentuk yang diletakkan di dalamnya, dan kedua unsur ini serupa di setiap sastra yang dihasilkan. Maka unsur bahan dan bentuk dalam sastra adalah dua unsur yang mendirikannya, keduanya seperti tubuh dan ruh pada manusia.[2] Oleh karena itu, sastra adalah apa yang membekas pada kita dengan karakter seni, perasaan yang indah, dan emosi-emosi halus secara bersamaan. Karakter seni meliputi atas bentukan seni atau acuan seni atau bentuk tampak dari sastra, baik drama ataupun peperangan. Perasaan yang indah terdapat dalam diri seorang sastrawan atau penya’ir, dan emosi-emosi halus merupakan dasar dari pembuatan sebuah karya sastra, dan apabila sastra kehilangan sentuhan lembutnya maka kita tidak menamakannya sebagai sastra lagi. Untuk itu, jika menemukan perkataan yang tertata seperti Alfiah Ibn Malik, ini tidak termasuk kedalam sastra karena di dalamnya tidak terdapat sentuhan halus itu.
            Tentunya sebuah karya sastra terdapat dalam bentuk yang bermacam-macam, baik dalam tarian, kisah, ataupun percakapan. Di samping itu dulunya sastra dimaknai konotasi yang mencakup atas makna-makna yang banyak. Dan bahasa sastra berkaitan dengan sikap, kejadian-kejadian, kenangan-kenangan, perumpamaan-perumpamaan dan juga mencakup atas suara yang keras, pelan, pembuatan sastra,  alat, dan barang-barang dalam hidup. Dan bahasa digunakan sebagai alat yang dasar dalam kesastraan yang berkaitan dengan simbol berserta  maknanya yang dalam, bahkan ungkapan seni yang memiliki bentuk zat pada dasar kesastraannya dan sadar akan makna-makna kemanusiaan yang menyerupainya. Dan dengan inilah seni berkembang, ia manusia yang kaya akan kemanusiaannya, kemudian menyerupai pencapaian makna kemanusiaan baginya sebagai suatu yang darurat dari semua kedaruratan atau sebagai suatu kebutuhan dari semua kebutuhan.
            Maka kebutuhan dasar manusia tak tercukupi dengan banyaknya harta, dan sumber daya alam yang telah disediakan, bahkan dibutuhkan didalamnya alat penghubung untuk mencapai tujuan yang bermanfaat di hidupnya, dan sebagiannya dengan bahasa dan sastra, keduanya sumber dasar dalam kehidupan manusia yang bermasyarakat dan keilmuan. Dan kesastraan contohnya memiliki kosa kata yang tersebar yang tergabung di dalamnya kadar yang tinggi dan bahasanya melekat bukan hanya makna sumbernya saja melainkan di dalamnya makna konotasi yang beragam yang tidak dipakai dalam bahasa ilmiah. Dan dengan bahasa kesastraan ini jadilah pembuatan sastra.
            Dan apabila membahas tentang pembuatan sastra dari segi jenisnya, terdapat di dalamnya pembuatan sastra prosa dan syi’ir. Maka syi’ir meliputi atas peperangan, drama, kisah dengan bahasa hewan, berdiri di tempat yang tinggi, dan syi’ir peperangan telah berkembang pada fajar kemanusiaan, dan merupakan syi’ir yang menceritakan kejadian-kejadian perang, kepahlawanan, dan para pahlawan yang bersahaja dan sedikit dari kepercayaan akal dan seni, begitu pula perbuatan-perbuatan yang luar biasa dan kejadian-kejadian yang jarang terjadi. Dan unsur-unsurnya ialah menggambarkan melalui percakapan, mendeskripsikan kepribadiaanya, dan pidato.
            Dan dulu syi’ir adalah pembuatan sastra yang besar di dunia sejak manusia kanak-kanak. Dan di antara nash-nash yang masih terjaga adalah syi’ir peperangan pada kesastraan Yunani kuno: Ilias dan Odysee untuk penyair Homerus 880 SM, di kesastraan Latin Al-Inyadah untuk penyair Farjil, dan peperangan Al-Komedya Al-Ilahiyah Ladante 133 M, dan Al-Firdaus Al-Mafqud untuk penyair Miltun 1674 M, kemudian dirapikan Muhammad Iqbal risalah al-khulud atau jawednamah sekitar seribu bait dalam bahrur raml dengan aturan al-mutsnawa, dan Mahabiharatsa untuk penyair Hindi. Dan seribu penyair Persia, Firdaus dari penyair-penyair zaman Al-Ghoznawi Asy-Syahanamah dengan 60 ribu bait. Dan terdapat dalam kesastraan ‘Arab, Asy-Sya’bi, peperangan Asy-Sya’bi antara Az-Zair As-Salim dan Abi Zaid Al-Hilaly dan tekenal dengan kekeringan dan anak perempuan yang mempunyai keinginan yang tinggi dan lainnya. Ini semua gagal pada zaman yang baru, beberapa penyair mencoba dengan bahasa-bahasa yang berbeda dalam menuliskan peperangan. Dan manusia masih membaca dan takjub dengan peperangan-peperangan lama yang disebutkan. Seni sastra mengenai peperangan pindah setelah zaman lama dari seni ke sastra Asy-Sya’bi dan berakhir setelah berkembangnya kemanusiaan, dan bertambah banyak alat hiburan seperti radio, televisi, internet, komputer dan sebagainya. Dan mereka menghasilkan pembuatan sastra dengan perkembangan dan budaya yang beragam di negara yang berbeda.
            Pelu diketahui bahwasanya Bahasa ‘Arab telah berkembang di negara-negara ‘Arab yang lebih dahulu menghasilkan pembuatan sastra baru dan asli di setiap ilmu-ilmu alamiah seperti kedokteran, astronomi, kimia, aljabar, geometri dan sebagainya, begitu pula di ilmu filsafat, sejarah, sikap dan sastra.
            Ini setelah bersatunya ‘Arab dengan Islam baik agama dan budaya seluruhnya bersumber dari perkembangan islam. Mereka menjadikan Islam sebagai syri’at dan pedoman yang tertulis dalam Al-qur an dan dasar dalam pembuatan-pembuatan sastra mereka. Maka Al-qur an adalah perkataan Allah ‘azza wa jalla yang merupakan gambaran tercapainya seni-seni Islam berangsur-angsur secara bahasa bagi mereka. Orang ‘Arab melihat bahwasanya hakikat keindahan Al-qur an dari sastra dan bahasa meliputi atas pendeskripsiannya, makna-maknanya, dan isinya. Dan Al-qur an bukan syi’ir atau prosa, tetapi Al-qur an adalah yang mulia, petunjuk bagi manusia, dan penjernih apa yang dalam dada. Dan ini sastra secara mutlak (sastra Al-qur an) atau prosa yang menyentuh (prosa mutlak). Tidak menggunakan kaidah syi’ir maupun prosa akan tetapi lebih besar keinginan mendapat syahadat yang indah, tinggi, yang tak terhitung kecuali olehNya. Dan syi’ir berkaitan dengan kaidah-kaidah tertentu, kata yang memiliki pola dan berakhiran sama, di dalamnya terdapat khayalan yang menakjubkan, pemikiran, kelembutan, dan makna-makna yang berbeda yang keluar dari otak penyair.
            Pembuatan sastra yang baru tumbuh dan berkembang hasil-hasil baru dengan banyaknya sumber-sumber dan rujukan-rujukan baru dari Al-qur an, Hadits, dan perkembangan yang diambil dari perkembangan yang berbeda di dunia (Yunani, Latin, Persia, Hindi, Asia dan sebagainya). Maka Al-qur an dan perkataannya yang nyata mendorong kesastraan yang tinggi, memiliki tema yang banyak seperti mendorong untuk beramal sholeh, nasihat yang bermanfaat, pelajaran yang baik, zuhud, pujian kepada Allah, RosulNya, para sahabatnya, para mujahidin di jalan Allah, dan penengah bagi Islam dari yang mendzoliminya. Dan kehidupan sastra berubah sangat cepat berdasarkan perubahan hidup kebanyakan, maka tumbuhlah permintaan kebutuhan pada manusia dan terjadilah perkelahian antara mereka dan antara kelompok masyarakat. Inilah yang menyibukkan mereka dari mengerjakan pembuatan sastra keseluruhan dan menghasilkan sastra yang bagus, yang layak di hadapan manusia sepanjang waktu. Dan kebiasaan orang ‘Arab itu benar, tidak salah dalam bahasanya dan tersebar berangsur-angsur dalam perkataan mereka seperti yang kita tahu itu jelas dalam prosa dan syi’ir mereka.



[1] Yus Rusyana, Bahasa dan Sastra dalam Gamitan Pendidikan (Bandung: Diponegoro 1984),h.311
[2] Sholahuddin An-nadawiy, Mukhtaraat minal adab almuqorin (Penelitian di Universitas Syarif Hidayatullah Al-Islamiyyah Al-Mukarromah, Jakarta: 1998),h.2

0 Response to "Makalah Ilmu Arud Wal-Qawafi"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

-->