-->

Makalah Tarikh Adab


Makalah Tarikh Adab


BAB I
PENDAHULUAN
1.    Latar belakang
Sastra dalam bahasa arab disebut dengan Adab. Dalam bahasa Indonesia adab berarti kesopanan, kehalusan dan kebaikan budi pekerti; Akhlak (Ali,1994:5). Sastra adalah bagian dari identitas budaya yang wujudnya tercermin dalam karya-karya sastra.. Seperti yang dikemukakan oleh Wahba (1984:34-36) bahwa pada jaman permulaan Islam, adab berarti peradaban atas pengajaran dan bukti pekerti. Pada abad ke-4 H. adab diartikan sebagai ilmu, yang bukan agama, tetapi dapat meningkatkan akal pikiran manusia, baik dari segi social maupun budayanya, seperti yang terdapat dalam Ikhwan Ash-Shafa’a. Dari arti-arti diatas, tampaknya ada pertalian antara adab dengan berbagai artinya diatas dengan kata adab yang ada di dalam bahasa Indonesia. Dengan demikian kesusastraan Arab mempunyai karateristik dan pengaruh yang besar sesuai dengan peradapan zaman dimasa itu.
2.    Pembatasan Masalah
Adapun pembatasan masalah dari pada kajian ini adalah kesusatraan pada masa islam.
3.    Rumusan Masalah
Sejalan dengan pembatasan masalah yang telah dikemukakan, maka pokok permasalahan yang dipertanyakan dalam makalah ini  adalah bagaimana karakteristik, bentuk kesusastraan arab pada masa islam.

BAB II
PEMBAHASAN
1.    Karya Sastra Islam
Sastra pada masa islam terbagi dua periode, yaitu periode awal dan periode kedua. Periode awal dimulai dari zaman Rasulallah sampai zaman Khulafa Ar-rasyidin dan periode kedua pada zaman Bani Umayah.

a.    Periode Rasulallah
Apresiasi bangsa Arab terhadap kesusastraan dapat ditelusuri dari penghargaan mereka terhadap para penyair. Tecatat dalam sejarah, dua karya sastra mu'allaqat dan mufaddaliyat merupakan karya besar sastrawan jahiliah Arab di zaman itu. Terdapat tradisi unik para penyair di sekitar Ka'bah. Mereka menggantung puisi-puisi terbaik mereka di dinding Ka'bah sebagai simbol kebesaran dan kebanggaan suku atau ras masing-masing.
Dalam buku Thabaqat Fuhul asy-Syuara yang ditulis oleh Muhammad bin Sulam al-Jumahi, disebutkan bahwa peran penyair di masa itu semakin menjadi-jadi. Diturunkanya kitab al-Qur'an, yang sangat luar biasa estetisnya pada seorang ummi  (buta baca-tulis) Muhammad, telah memicu kreatifitas para penyair Jahiliyah untuk menyaingi kedahsyatan estetiknya al-Qur'an, karena itu banyak penyair-penyair ulung hadir ke tengah masyarakat dengan menjadi nabi-nabi palsu, dua diantaranya adalah Musailamah al-Kadzab yang melahirkan kitab puisi ma huwal fil (kitab puisi ayat-ayat katak), sementara Imri'il Qais menulis kitab puisi ayyuhat ath-thalali al-bali. Selain kedua penyair di atas yang sangat merisaukan Nabi dan pemeluk Islam awal adalah penyair Ka'ab bin Zuhair. Penyair Jahiliyah yang kesohor ini tidak ingin menempuh jalan yang sama seperti Musailama dan al-Qais membuat tandingan al-Qur'an akan tetapi, ia mencipta puisi dengan misi melakukan pembunuhan karakter Nabi. Karena pengaruh puisinya yang sangat memukau itu, banyak pengikut Nabi yang masih labil, kembali menjadi musyrik.
Ketika terjadi penaklukan kota Makkah, Ka'ab, sang Penyair bersembunyi untuk menghindari luapan amarah para sahabat Nabi. Saat itu saudara Ka'ab yang bernama Bujair bin Zuhair langsung mengirim surat kepada Ka'ab, yang isinya antara lain menganjuran agar Ka'ab keluar dari persembunyiannya dan menghadap Nabi untuk memohon maaf. Anjuran itupun diikuti oleh Ka'ab, melalui `tangan' Abu Bakar as-Siddiq, di sana ia menyerahkan diri kepada Nabi. Ia pun sangat terharu dengan sikap Nabi dan sahabt-sahabatnya, yang pada waktu itu tidak saja memberikan pintu maafnya, akan tetapi, mereka menyambut dengan baik kehadirannya, bahkan semua yang hadir pada waktu itu memberikan salam hormat yang tinggi kepada dirinya. Saat itu pulalah Ka'ab insyaf lalu bersyahadat. Ka'ab memeluk Islam di depan Nabi. Rasa hormat Nabi kian bertambah, sampai-sampai beliau melepaskan burdah (sorban)-nya dan memberikannya kepada Ka'ab. Sejak itu, Ka'ab langsung menggubah puisinya yang sebelumnya berisi penghinaan menjadi pujian-pujian yang sangat indah, puisi gubuhan itu sangat dikenal dengan sebutan Banat Su'ad (Putri-putri Su'ad), terdiri atas 59 bait (puisi). Kasidah ini disebut pula dengan qasidah burdah, yang kelak diabadikan oleh kaligrafer Hasyim Muhammad al-Baghdadi di dalam kitab kaligrafi-nya, Qawaid al-Khat al-Arabi.
Pada saat itu juga Rasulullah SAW melarang umatnya untuk membuat puisi karena di khawatirkan tercampur oleh ayat-ayat al-quran.
b.    Periode Khulafa Arrasyidin
Sejarah sastra arab, mencatat banyak penyair-penyair Mu’allaqat, diantaranya adalah tujuh orang yaitu :
Ø  Ibnu al-qais bin Haris al-kindi (500-540)
Ø  Zuhair bin abu sulma al-muzani (530-627)
Ø  Al-nabigah al-zubiani (sekitar 604)
Ø  Labid bin Rabiah al-amiri (560-661)
Ø  Tarafah bin abdul bakri (543-569)
Ø  Antarah bin Syaddad al-bakri (sekitar 580)
Banyaknya sastrawan-sastrawan arab ini menunjukan bahwa sastra pada saat itu sudah sangat terkenal dan menjadi budaya orang arab dan orang arab sangat menghormati sastrawan.

c.  Periode Bani Umayah
Kebanyakan masyarakat dan Khalifah Bani Umayyah mencintai syair. Pada masa itu lahir beberapa penyair terbesar, seperti Ghayyats Taghlibi al-Akhtal, Jurair, dan al-Farazdak. Kota-kota yang menjadi pusat kegiatan ilmu, pada masa Daulah Bani Umayyah, masih seperti zaman khafa al-Rasyidin, Yaitu kota Damaskus, Kufah, Basrah, Mekkah, Madinah, Mesir dan ditambah lagi dengan pusat-pusat baru, seperti kota Kairawan, Kordoba, Granada dan lain-lainnya.

2.    Karakteristik Kesuasastraan Masa Islam
Karateristik kesusastraan Arab pada masa permulaan Islam menggambarkan tentang kehidupan masyarakat islam yang gemilang, jauh dari kekacauan, beraroma keikhlasan, terlihat cahaya tauhid dan semangat yang tinggi dalam menghadapi kesulitan.
Pada masa sekarang, prosa Arab hanya ada dua, sedangkan pada masa Jahiliyah ada enam prosa Arab. Hal ini disebabkan masyarakat muslim sudah gemar membacakan sastra Arab dengan diiringi musik sehingga karya sastra yang terlalu panjang teksnya mereka malas untuk membacanya. Pada masa permulaan Islam ini, sastra Arab berperan penting untuk menyebarkan islam, karena para penyair berdakwa dengan menggunakan berbagai bentuk karya sastra. Karateristik sastra Arab pada masa Jahiliyah dan permulaan Islam hampir sama. Karena sastra Arab pada masa permulaan Islam merupakan perluasan atau pengembangan dari sastra Arab pada masa Jahiliyah. Hanya pada permulaan Islam sastra sebagaian besar digunakan untuk berdakwah.

3.    Tema Kesusatraan Masa Islam
Tema-tema zaman Jahiliyah ada juga yang masih dipakai pada zaman permulaan Islam seperti :
a.    Al-Washt, tetapi deskripsinya tidak lagi menggambarkan tentang minuman keras, judi, tempat-tempat minum, melainkan segala sesuatu yang tidak termasuk dalam kategori yang tidak diharamkan.
b.    Al-Ghazal, tetapi yang dideskripsikan bukan dari segi yang negatifnya, melainkan dari akhlaknya yang mulia.
c.    Al-Fakhr, tetapi yang digambarkan bukan lagi membanggakan diri tentang keturunan.
d.    Al-Madahu, tetapi bukan pujian yang berlebih-lebihan.
e.    Al-Hija’, tetapi bukan cemoohan yang jelek dan yang menyebarkan permusuhan dalam masyarakat.
f.      Ar-Ritsa, yaitu ratapan terhadap para syuhada yang wafat dalam perjuangan menyebarkan agama Islam.
g.    Dakwah Islam. Tema ini dibedakan lagi menjadi tema :
Ø  Agama Islam, kaum muslimin, Nabi Muhammad SAW, para      sahabat dan para khalifah.
Ø  Kemuliaan Akhlak, jalan yang lurus, kekuasaan dan kemuliaan          Alloh, menjauhkan diri dari sesuatu yang keji.
Ø  Mendorong untuk berjihat melawan kaum musyrikin, mati syahid        dijalan Alloh, menang melawan musuh dan penyebaran islam.
Ø  mengambarkan tempat-tempat perang dan alat-alat perangnya.

4.    Bentuk Kesusatraan Arab Masa Islam
a.      Prosa
1)    Khutbah.
Perkembangan khutbah pada zaman ini menduduki posisi yang paling tinggi, karena khotbah sangat penting untuk melakukan dakwah Islam dan Jihad. Ciri-ciri khutbah pada zaman ini adalah jauh dari kata-kata asing, kalimatnya panjang, sajaknya berat, pilihan makna dan idenya baik, dimulai dengan memuji dan bersyukur kepada Alloh, sholawat pada rosul dan diakhiri dengan permintaan ampun kepada Alloh, kata-kata hikma dan temanya macam -macam.
2)     Kitabah rasail.
menyurat mulai berkembang dalam rangka dakwah Islamiyah, pengaturan hokum dan kebijakan politik pemerintahan islam serta penulisan piagam perdamaian abtar negeri. Ciri-ciri kitabah pada zaman ini dimulai dengan basmallah dan pujian kepada Alloh SWT, ucapan salam, dan disusul dengan isi surat tersebut.

b.      Syair 
Islam selalu bersikap kagum terhadap syair-syair yang berisikan kebenaran dan akhlak yang mulia.

DAFTAR PUSTAKA




0 Response to "Makalah Tarikh Adab"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

-->