-->

Sastra Bandingan




SASTRA BANDINGAN

1.      Pengarang            : Hafizh bin ‘Ajab Ali Hafizh al-Duwasri
Judul                    : ضياع دار  (Terbit 1418 H)
Bagian                  : ضياع دار (Bagian peperangan), halaman 26-53

2.      Pengarang            : Aan Merdeka Permana
Judul                    : Perang Bubat: di Balik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka
  (Terbit 2009)
Bagian                  : 8 (halaman 232-263)                      

Sinopsis Novel ضياع دار
Novel ضياع دار menceritakan tentang Abdurrahman yang kehilangan rumahnya disebabkan oleh peperangan dan pengkhianatan temannya. Abdurrahman memiliki rumah mewah yang berada di atas puncak bukit tertinggi di kota Madinah. Rumah itu dibangun oleh ayahnya. Ayahnya kemudian ikut berjihad, dan gugur di medan perang. Maka Abdurrahman bertanggungjawab untuk menjaga ibu dan adiknya. Abdurrahman berniat untuk melamar Asma, adik dari sahabatnya, Shaleh. Lamaran Abdurrahman diterima, kemudian dilangsungkan akad pernikahan, sedangkan resepsi pernikahan dilaksanakan dua bulan kemudian. Lima hari sebelum resepsi, Shaleh datang kepada Abdurrahman untuk melamar Aisyah, adik Abdurrahman. Lamaran Shaleh pun diterima. Mereka berencana untuk melangsungkan resepsi pernikahan bersama. Namun sebelum resepsi dilaksanakan, terjadi sesuatu yang tidak diduga. Tiba-tiba saja terdapat seruan untuk berjihad memerangi musuh.
Dalam peperangan tersebut muncullah pengkhianatan dari Sayaf. Sayaf adalah teman Shaleh yang sebelumnya pernah melamar Asma tetapi lamaran tersebut ditolak. Saat ia tahu bahwa lamaran Abdurrahmanlah yang diterima, Sayaf merasa benci terhadap Shaleh, terlebih lagi saat ia tidak mendapatkan posisi sebagai pemimpin pasukan, ia semakin merasa benci dan dendam kepada Shaleh.
Abdurrahman memiliki kelemahan dari segi pandangan. Pandangannya kabur. Maka Abdurrahman tidak ikut berjihad. Ia tetap di rumah, menjaga ibunya yang sedang sakit, menjaga isterinya, dan adiknya. Sayaf berkhianat kepada Shaleh dengan menjalin hubungan dengan pihak musuh. Sayaf memberitahukan tentang taktik perang kepada musuh. Itulah yang membuat musuh bisa mengalahkan pasukan yang melindungi kota. Sayaf dan para prajuritnya yang berkhianat kemudian bertekad untuk menyerang rumah Abdurahman secara tiba-tiba karena Sayaf telah mempengaruhi prajuritnya dengan mengatakan bahwa ada seseorang yang ketika yang lain berperang, justru bersantai-santai di rumah yang mewah.
Sayaf dan prajuritnya akhirnya berhasil memasuki rumah Abdurrahman. Saat itu Abdurrahman sedang berada di kamarnya, tidur karena demam dan sakit mata. Prajurit Sayaf kemudian merangsek masuk dan mengikat Abdurrahman di salah satu tiang rumahnya. Asma, Aisyah dan ibu Abdurrahman lalu digiring ke tempatnya. Di hadapan Abdurrahman, Sayaf mengatakan kepada prajuritnya untuk membuka aurat ketiga wanita itu. Abdurrahman yang lemah berusaha untuk melawan, namun siksaan yang ia dapatkan. Ia pun semakin lemah, lalu pingsan. Namun Sayaf dan prajuritnya membuang Abdurrahman ke hutan. (Di hutan, Abdurrahman ditemukan oleh seorang pembantu dari nenek tua. Abdurrahman kemudian dirawat oleh nenek tua itu). Ibunda Abdurrahman lalu mengambil yang pisau yang ada di dekatnya, lalu bunuh diri. Sayaf lalu memerintahkan prajurtinya untuk membawa Asma ke kamar untuk digauli oleh Sayaf, dan menyuruh mereka membawa Aisyah pergi dan mengizinkan mereka memperlakukannya sesuai dengan keinginan mereka.
Aisyah kemudian dipukul sangat keras oleh prajurit itu karena menolak. Akhirnya wanita itu mati. Sedangkan Asma, digauli oleh Sayaf dengan paksa. Setelah kejadian itu, Asma tidak mau makan dan minum. Saat Asma ke kamar mandi, dia melompat keluar jendela yang mengarah ke jurang yang sangat dalam. Dia jatuh dari atas gunung dan mati.


Unsur Intrinsik Novel ضياع دار
Sebuah karya fiksi tidak terlepas dari unsur-unsur instrinsik, yaitu berupa tema, tokoh, sudut pandang, alur dan amanat. Dalam novel  ضياع دارkarya Hafizh bin ‘Ajab Ali Hafizh al-Duwasri tidak terdapat sub-sub judul seperti novel-novel lainnya. Novel ini menggunakan tema non-tradisional, karena pada akhirnya bukan kebaikan yang mengalahkan kejahatan, tetapi kejahatan yang mengalahkan kebaikan. Sedangkan dalam kategori tingkatan tema menurut Shipley, tema dalam novel ini termasuk ke dalam tema tingkat ketiga, yaitu tema sosial, karena di dalam novel ini berhubungan dengan masyarakat dan cinta kasih. Adapun tema utama dalam novel ini adalah pengkhianatan.
Adapun tokoh yang terdapat dalam bagian yang dipilih oleh peneliti, yaitu Aku (Abdurrahman), Aisyah (adik Abdurrahman), Sajidah (Ibunda Abdurrahman), Shaleh, Asma, Mujahid, Sayaf, prajurit dan tukang roti. Penjelasan mengenai bagian tokoh tersebut dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tokoh Utama
Abdurrahman
Tokoh Tambahan
Aisyah, Sajidah, Shaleh, Asma, Mujahid, Sayaf, prajurit dan tukang roti
Tokoh Antagonis
Sayaf dan prajuritnya
Tokoh Protagonis
Abdurrahman, Aisyah, Sajidah, Shaleh, Asma, Mujahid, prajurit Sayaf dan tukang roti
Tokoh Sederhana
Aisyah, Sajidah, Shaleh, Mujahid, prajurit Sayaf dan tukang roti
Tokoh Bulat
Abdurrahman, Asma dan Sayaf
Tokoh Statis
Aisyah, Sajidah, Shaleh, Mujahid, prajurit Sayaf dan tukang roti
Tokoh Dinamis
Abdurrahman, Asma dan Sayaf

Pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama serba tahu dalam novel ini, sebab pengarang menggunakan tokoh “Dia” sebagai tokoh utama.
Dalam novel ini, pengarang menggunakan alur maju-mundur. Pada awalnya pengarang menceritakan tokoh si “Aku” di masa kini, lalu tokoh “Aku” menceritakan tentang kisah masa lalunya kepada seorang nenek tua yang merawatnya. Ini adalah alur mundur karena merupakan kejadian yang telah lampau. Setelah selesai bercerita, tokoh “Aku” kembali ke keadaannya di masa kini. Ini adalah alur maju.
… Abdurahman lalu mulai bercerita dengan air mata yang terus mengalir deras bagaikan air terjun yang tiada henti. “Bu, dulu rumahku terletak di atas puncak bukit tertinggi yang ada di kota Madinah tempat kita tinggal ini. … (Alur mundur)
… Inilah kisah hidupku, Bu. Itulah musibah yang telah menimpa diriku. Apakah kau pernah mengalami yang lebih besar daripada ini?? … (Alur Maju)

Sinopsis Novel Perang Bubat: di Balik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka
Novel Perang Bubat: di Balik Kisah Cinta Gajah Mada dan Dyah Pitaloka menceritakan tentang Gajah Mada yang sejak lama telah mencintai Putri Sunda, yaitu Dyah Pitaloka. Sebenarnya Dyah Pitaloka pun mencintai Gajah Mada, tetapi karena status sosial di antara mereka berbeda, maka keduanya memendam perasaan masing-masing. Gajah Mada yang pada awalnya adalah pekerja di Kerajaan Sunda, akhirnya diusir oleh Maharaja Linggabuana tetapi dengan pengusiran yang baik. Pengusiran ini dilakukan karena sang Raja tahu bahwa Gajah Mada tertarik kepada puterinya. Gajah Mada kemudian menjadi pekerja di Kerajaan Majapahit. Berkat kecerdasannya, Gajah Mada akhirnya diangkat menjadi patih, menggeserkan posisi Patih Janggawolu dan Patih Purwodi. Ini membuat Patih Janggawolu dan Patih Purwodi merasa sakit hati.
Gajah Mada sangat terkenal di Kerajaan Majapahit, bahkan melebihi Hayam Wuruk. Dapat dilihat, gelar Gajah dan Hayam tentunya sangat berbeda jauh. Terkenalnya Gajah Mada, selain karena kehebatannya dalam berargumen dan memberikan solusi suatu masalah, adalah karena Sumpah Palapa yang diucapkannya, yang tidak akan memakan buah palapa, kecuali telah membuat seluruh kerajaan yang ada di Nusantara tunduk kepada Majapahit.
Raja Majapahit, yaitu Hayam Wuruk merasa memerlukan seorang pendamping. Ia lalu melihat sebuah lukisan Dyah Pitaloka di kamar Gajah Mada, dan saat itu pula Hayam Wuruk merasa tertarik pada Dyah Pitaloka dan langsung menginginkannya menjadi isterinya. Hayam Wuruk kemudian memerintahkan kepada Gajah Mada dan beberapa prajurit agar menyampaikan sebuah pesan yang ditulis dalam lontar kepada Raja Sunda.
Gajah Mada beserta prajuritnya pun segera datang ke Kerajaan Sunda. Di sana, saat Gajah Mada bertemu kembali dengan Dyah Pitaloka, ia dapat merasakan bahwa cintanya untuk sang Puteri masih ada di dalam hatinya. Namun Gajah Mada tetap melaksanakan perintah rajanya untuk memberikan lontar yang berisi surat pinangan kepada Raja Sunda.
Raja Sunda merasa suatu kehormatan Raja Majapahit ingin memperisteri puterinya. Pinangan tersebut pun diterima. Setelah mendapatkan balasan pesan dari Raja Sunda yang isinya dapat mudah ditebak oleh Gajah Mada, Gajah Mada pun kembali ke Majapahit.
Namun yang menjadi permasalahan adalah Raja Majapahit ingin agar dalam pernikahan, pihak kerajaan Sunda yang datang ke Majapahit, dengan alasan itu adalah budaya Majapahit. Hal ini bertentangan dengan adat Sunda, di mana pihak perempuanlah yang didatangi oleh pihak laki-laki. Hal ini sempat menjadi masalah di kerajaan Sunda, namun Raja Sunda merasa ini adalah untuk terjalinnya saling menghargai antar adat. Akhirnya, rombongan Sunda tetap datang ke Majapahit dengan menggunakan kapal.
Ketika sampai di daratan, tidak ada pihak Majapahit yang datang menjemput. Maka, beberapa orang pihak Sunda bermaksud untuk mendatangi lebih dulu pihak Majapahit dengan membawa seserahan, barangkali akan bertemu di jalan. Dyah Pitaloka dan beberapa orang lainnya menunggu di kapal. Raja, Ratu beserta para prajurit pergi.
Benar dugaan mereka, bahwa di jalan, mereka bertemu dengan Patih Purwodi dan Patih Janggawolu. Kedua patih yang datang menjemput kemudian mengajak agar beristirahat dulu di Bubat. Seserahan yang dibawa dari Sunda ditempatkan di sebuah tempat yang biasa digunakan untuk upeti. Pihak Sunda tidak terima, karena menurut mereka seserahan bukanlah upeti. Namun pihak Majapahit bersikeras agar seserahan itu diletakkan di sana karena memang seperti itu biasanya. Pihak Sunda tersinggung, kemudian terjadilah perkelahian di antara mereka. Karena pihak Sunda lebih banyak, kedua patih itupun pergi. Tak lama kemudian, datang rombongan pasukan yang siap bertempur.
Pihak Sunda tidak tahu bahwa pasukan itu memang telah disiapkan untuk memerangi mereka. Ini memang telah direncanakan oleh Patih Purwodi dan Janggawolu. Mereka berkhianat, dengan menggunakan Sumpah Palapa sebagai alasan memerangi Sunda, padahal tujuan mereka adalah agar Gajah Mada tersingkir dari istana, sebagaimana mereka tersingkir dari posisi mereka dulu.
Saat akan bertarung, terdengar seruan, “Demi Sumpah Palapa!”. Pihak Sunda mengira ini semua adalah rencana jahat Gajah Mada yang ingin menjadikan Sunda tunduk di bawah Majapahit. Maka pertempuran terjadi. Pihak Sunda kalah karena mereka sama sekali tidak memiliki persiapan untuk bertempur.
Ketika pertempuran terjadi, orang-orang yang ada di kerajaan Sunda sama sekali tidak tahu, termasuk Gajah Mada. Mereka justru khawatir karena rombongan Sunda tidak juga datang. Akhirnya diperintahkan kepada Sakunti dan Kurowi (pengikut setia Gajah Mada) untuk menyusul Patih Purwodi dan Janggawolu ke Bubat. Sakunti dan Kurowi terkejut melihat di lapangan Bubat sudah banyak darah dan mayat. Mereka bertemu dengan Patih Purwodi dan Janggawolu, namun dua patih itu menjawab, ini disebabkan pihak Sunda yang tidak mau menyimpan seserahan di tempat upeti.
Setelah Sakunti, Kurowi, Patih Purwodi, Patib Janggawolu dan prajuritnya kembali ke istana, mereka segera mendatangi Raja Hayam Wuruk. Mereka mengatakan hal yang sama, yaitu pihak Sunda tidak mau menyimpan seserahan di tempat upeti. Pernikahan pun gagal. Adapun alasan yang digunakan untuk menjelaskan hal yang terjadi kepada pihak Sunda yang masih ada di daerah Sunda adalah itu semua demi Sumpah Palapa. Akhirnya Gajah Mada yang menjadi korban. Dia diusir dari istana. Di luar pun dia dicemooh oleh banyak orang. Sedangkan tentang rombongan Dyah Pitaloka yang menunggu di kapal, semua tewas karena pasukan Patih Purwodi sampai memerangi semua yang ada di kapal, kecuali Dyah Pitaloka, dalam novel ini dikisahkan tiba-tiba saja hilang dan tidak pernah ditemukan.
Unsur Intrinsik Novel Perang Bubat
Tokoh dalam novel Perang Bubat BAB 8 adalah Maharaja Linggabuana (Ayahanda Putri Dyah Pitaloka, Raja Sunda), Putri Dyah Pitaloka Citraresmi, Dewi Sriman Taji (Isteri Maharaja Linggabuana), Mangkubumi Bunisora, Wastukancana, Rakean Rangga, Tumenggung Larang Ageung, Patih Supit Kelingking, Rakean Nakoda Braja, Rakean Nakoda Bule, Pendeta Kalihan Jati, Patih Wirayuda, Patih Seberang Keling, menteri, patih, prajurit Sunda Sakunti, Kurowi, Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Sedangkan tokoh antagonis adalah Patih Janggawolu, Patih Rangkek Durga, Patih Purwodi dan Ki Panghulu Sura.
Tokoh Utama
Gajah Mada
Tokoh Tambahan
Maharaja Linggabuana (Ayahanda Putri Dyah Pitaloka, Raja Sunda), Putri Dyah Pitaloka Citraresmi, Dewi Sriman Taji (Isteri Maharaja Linggabuana), Mangkubumi Bunisora, Wastukancana, Rakean Rangga, Tumenggung Larang Ageung, Patih Supit Kelingking, Rakean Nakoda Braja, Rakean Nakoda Bule, Pendeta Kalihan Jati, Patih Wirayuda, Patih Seberang Keling, menteri, patih, prajurit Sunda Sakunti, Kurowi, Hayam Wuruk, Patih Janggawolu, Patih Rangkek Durga, Patih Purwodi dan Ki Panghulu Sura
Tokoh Antagonis
Patih Janggawolu, Patih Rangkek Durga, Patih Purwodi dan Ki Panghulu Sura
Tokoh Protagonis
Maharaja Linggabuana (Ayahanda Putri Dyah Pitaloka, Raja Sunda), Putri Dyah Pitaloka Citraresmi, Dewi Sriman Taji (Isteri Maharaja Linggabuana), Mangkubumi Bunisora, Wastukancana, Rakean Rangga, Tumenggung Larang Ageung, Patih Supit Kelingking, Rakean Nakoda Braja, Rakean Nakoda Bule, Pendeta Kalihan Jati, Patih Wirayuda, Patih Seberang Keling, menteri, patih, prajurit Sunda Sakunti, Kurowi, Hayam Wuruk
Tokoh Sederhana
Maharaja Linggabuana (Ayahanda Putri Dyah Pitaloka, Raja Sunda), Putri Dyah Pitaloka Citraresmi, Dewi Sriman Taji (Isteri Maharaja Linggabuana), Mangkubumi Bunisora, Wastukancana, Rakean Rangga, Tumenggung Larang Ageung, Patih Supit Kelingking, Rakean Nakoda Braja, Rakean Nakoda Bule, Pendeta Kalihan Jati, Patih Wirayuda, Patih Seberang Keling, menteri, patih, prajurit Sunda Sakunti, Kurowi, Patih Rangkek Durga dan Ki Panghulu Sura
Tokoh Bulat
Gajah Mada, Hayam Wuruk, Patih Janggawolu dan Patih Purwodi
Tokoh Statis
Putri Dyah Pitaloka Citraresmi, Dewi Sriman Taji (Isteri Maharaja Linggabuana), Mangkubumi Bunisora, Wastukancana, Rakean Nakoda Braja, Rakean Nakoda Bule, Pendeta Kalihan Jati, Patih Wirayuda, Sakunti, Kurowi, Patih Rangkek Durga dan Ki Panghulu Sura
Tokoh Dinamis
Maharaja Linggabuana (Ayahanda Putri Dyah Pitaloka, Raja Sunda), Rakean Rangga, Tumenggung Larang Ageung, Patih Supit Kelingking, Patih Seberang Keling, Patih Janggawolu dan Patih Purwodi

Dalam novel ini pengarang menggunakan sudut pandang orang ketiga karena menyebutkan nama tokoh. Adapun alur yang digunakan dalam novel ini adalah alur searah, karena peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam novel ini diceritakan secara berurutan.
Metode
Novel ضياع دار terbit pada tahun 1418 H, sedangkan novel Perang Bubat terbit pada tahun 2009, maka peneliti menggunakan metode diakronis, karena dua novel tersebut dipandang berbeda zaman dalam pembuatannya.
Analisis
1.      Afinitas
Kedua novel tersebut sama-sama menceritakan pengkhianatan yang terjadi dalam peperangan. Hanya saja dalam novel ضياع دار pengkhianatan murni disebabkan oleh cinta, dan jabatan sebagai alasan yang memperkuat pengkhianatan. Sedangkan dalam novel Perang Bubat murni disebabkan karena disingkirkan dari jabatan.
2.      Penetrasi
Peneliti berpendapat bahwa dalam pembuatan kedua novel ini tidak ada unsur saling mempengaruhi. Karena novel ضياع دار terbit pada tahun 1418 H, sedangkan novel Perang Bubat terbit pada tahun 2009.

3.      Popularitas
Novel ضياع دار adalah novel yang diterbitkan di Kharaj, sedangkan novel Perang Bubat diterbitkan di Indonesia. Maka peneliti berpendapat, kedua novel ini terkenal di daerahnya masing-masing. Khusus untuk novel Perang Bubat, karena Perang Bubat menceritakan tentang Kerajaan Sunda dan Majapahit yang ada di Jawa, maka diperkirakan novel ini akan lebih terkenal di daerah tataran Sunda dan Jawa.
4.      Reputasi
Sebagaimana yang terdapat dalam buku Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi, bahwa sebuah novel merupakan totalitas, suatu kemenyeluruhan yang bersifat artistik. Maka sebagai sebuah totalitas, novel tidak terlepas dari unsur-unsur pembangunnya. Peneliti berpendapat bahwa kedua novel ini dapat dikatakan bermutu, karena unsur-unsur intrinsik yang harus ada dalam sebuah novel, terdapat dalam kedua novel ini.
5.      Aliran
Tema umum dari dua novel ini adalah pengkhianatan, dan keduanya membahas tentang cinta. Maka peneliti berpendapat bahwa kedua novel ini termasuk ke dalam aliran romantisme, karena aliran romantisme bertujuan agar pembaca tersentuh dan terbuai emosinya.

0 Response to "Sastra Bandingan"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

-->